Selasa, 26 Juni 2012

sejarah kecil fasisme

Kata “fasisme” hampir tidak dikenal di eropa sampai tahun 1920, ketika kata itu diadopsi oleh Benito Mussolini (Italia) sebagai nama untuk gerakan revolusioner barunya fasisme berasal dari bahasa latin fasces yang  berarti (ikatan). Pada tahun 1920 Mussolini mengadopsi dan memberikan nama yang mirip fasci kepada kelompok bersenjata yang dia harapkan akan membawanya kepada kekuasaan(Purcel,Hugh.2000.Fasisme.INSIST press:Yogyakarta.hal 2-3)
Ciri penting semua gerakan fasisme adalah mereka meletakkan negara sebagai pengatur dan pusat seluruh sejarah dan kehidupan serta pada otoritas imamah yang terbagi dari para imam dan pemimpin dimana rakyat sangat tergantung harapan untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, terbebas dari disintegrasi.
Menurut doktrin fasis, negara harus totaliter. Ini berarti negara harus memiliki kekuasaan total diatas semua aspek kehidupan yang setiap anggota-anggotanya. Disana hanya ada satu partai politik yang setiap orang memberikan suara, partai ini adaah pemerintah. Bagi orang-orang fasis, demokrasi sedikit lebih baik dari pada chaos. Mereka percaya bentuk pemerintahan yang mengijinkan warga negaranya memberikan suara seperti yang mereka suka kepada banyak partai mendorong keegoisan dan akan berakhir dalam anarkhi.
Fasis mempercayai bahwa manusia adalah predator (hewan pemangsa buas) atau Gladiator (petarung manusia yang duel/melawan binatang buas dalam masa Romawi kuno) bukan hanya pembenaran mereka untuk mendukung negara yang seluruhnya sangat kuat. Motif mereka adalah penjagaan diri sendiri sebagai kepercayaan arogan bahwa bangsa mereka pantas untuk dominan dan bahwa ras mereka supserior terhadap yang lainnya dan menganggap bangsa lain adalah bangsa yang primitif. Nasionalisme dan rasioalisme merupakan gambaran paling terkuat dari fasisme pada tahun 1930-an.
Nazi Jerman ingin mempersatukan orang-orang Jerman di Austria dan Chekhoslovakia dan memberikan mereka lebensraum (ruang hidup) dengan memberluas ke Eropa Timur. Fasis Italia ingin menghidupkan kembali dominasi latin kuna atas partai Mediteranian. Bagaimanapun, Hitler bercita-cita menjadi artis dan Mussolini menjadi jurnalis.
Mussolini pernah berkata “fasisme bukan hanya partai, ia adalah rezim; ia bukan hanya suatu rezim tetapi kepercayaan; ia bukan hanya sebuah kepercayaan tetapi agama”. Pemimpin fasis antara tahun 1920-1945 adalah diktator. Dua orang yang mencapai kekuasaan penuh, Mussolini dan Hitler menggunakan mesin demokratik dari pemilihan dan tawar menawar politik. Untuk mencapai itu, tetapi sekali lagi mereka mengambil alih pemerintah mereka dengan cara mengonsentrasikan seluruh kekuasaan di tangan mereka. Kata-kata mereka adalah hukum; kekuasaan mereka tidak diperiksa oleh kabinet, parlemen atau pemilihan umum.Ajaran ini terilhami kekuasaan Monarki Absolut Raja (pemimpin kekuasaan) yang dimana pemimpin memiliki kekusaan penuh terhadap hukum yang dibuatnya.
Fasis mempercayai bahwa negara yang kuat memerlukan diktator pada para pimpinannya. Sebenarnya, pemimpin fasis tidak suka disebut diktator. Mereka lebih suka istilah lain seperti (“fuehrer”, “duce”, atau “caudillo”) yang berarti sama.
Pada basis sejarah faisme di Jerman dan Italia merebut kekuasaan karena mereka bersikap sebagai pembela negara, pemenang hukum dan tata tertib, melawan ancaman komunis.
Latar Belakang Terjadinya Fasisme
Fasisme mulai ketika Perang Dunia I dan berakhir pada tahun 1918. perang menyebarkan benihnya ditanah Italia dan Jerman. Tanpa Mussolini dan Hitler benih-benih ini tidak akan tumbuh di dalam tatanan fasisme, berkat merekalah fasisme hidup.
Kekuatan Nasionalisme
Benih pertama adalah nasionalisme. Jerman merasa bahwa negara mereka dipermalukan oleh kekalahan mereka terutama dalan perjanjian versailles yang ditandatanganinya. Jerman dipaksa untuk menyerahkan teritori, khususnya ke Polandia dan Austria tentara dikurangi menjadi 100.000 orang walaupun ini muncul dari perang kehormatan. Jerman sangat marah karena tuduhan bahwa mereka adalah penyebab dari perang dan juga yang kalah.Ini sudah jadi hukum perang dimana pihak yang  kalah harus membayar kerugian perang.karena pada waktu perang Dunia 1 bangsa Jerman atau sering disebut “Panser’ kalah melawan Austria dan para sekutu.
Bangsa Italia mempunyai dendam serupa yang mendalam. Walaupun mereka bergabung dalam perang pada aliansi yang menang pada tahun 1915, mereka ditipu akan hasil kemenangan. Mereka kehilangan setengah juta laki-laki, dengan hampir satu juta lainnya terluka dan sebagai gantinya konferensi perdamaian versilles.
Pada kedua negara ini, orang-orang mantan dinas militer menggabungkan diri dalam asosiasi, sebagian untuk menjaga semangat perkawanan dan patriotisme selama perang, sebagian untuk balas dendam atas kekalahan. Keduanya punya kebiasaan mengganggu para politisi, yang disalahkan atas penghinaan negara mereka, mereka memukul habis-habisan sosial dan komunis yang dituduh mencoba menggulingkan pemerintah(www.yahoo.com)
Kegagalan Ekonomi
Benih kedua tumbuhnya fasisme adalah kemiskinan. Ketika banyak rakyat Jerman dan Italia merasakan rasa penghinaan nasional, banyak yang lebih merasakan penghinaan pribadi disebabkan oleh pengangguran dan kehilangan uang akibat perang Dunia 1.
Antara tahun 1918 dan 1923 kedua negara menderita bencana ekonomi. Setiap negara mengakhiri perang dalam hutang, kecuali AS. Kemiskinan di Italia membuat hutang ini dalam jumlah yang sangat besar. Pada tahun yang sama biaya hidup lebih tinggi, ratusan ribu rakyat Italia tak ada pekerjaan.
Kemiskinan di Jerman merupakan harga kekalahan untuk pembuat perdamaian di versailles mengatur bahwa Jerman harus membayar perbaikan-perbaikan suku rekening untuk kerugian-kerugian pemenang.
Frustasi akan Demokrasi
Pada pertengahan kekalahan dan depresi demokrasi berjuang untuk tetap hidup. Kekecewaan dengan demokrasi merupakan benih ketiga yang disebarkan oleh perang. Di kedua negara pemerintah disalahkan akibat perang. Di Italia parlemen yang dipilih secara demokratik menentang masuknya Italia ke dalam perang. Raja dan kabinet telah menolak itu. Langkah pertama Mussolini ke fasisme adalah kebencian akan politik dan korupsi di dalam pemerintahaan Italia.
Di Jerman istilah penyerahan dari friendensdiktat (perdamaian yang diperitah) versailles telah ditandatangani oleh pemerintah republik yang baru dibentuk setelah kaisar melarikan diri.
Bahkan tanpa korupsi dan stigma kiri oleh perang, sistem demokrasi di Italia dan Jerman sulit untuk bertahan hidup. Di kedua negara itu pemeritahan begitu lemah sehingga lembaga yang sangat kuat didalam negara seperti tentara dan pengadilan berada di luar kontrol mereka.
Ketakutan akan komunisme
Pada tahun-tahun segera sesudah tahun 1918 muncul kemungkinan besar bahwa demokrasi di Italia dan Jerman akan diakhiri oleh komunisme dari para fasisme. Perang telah menggulingkan tahta keluarga kerajaan yang berkuasa di Eropa dan melemparkan struktur politik dan sosial benua ke dalam tempat yang berlumpur.
Di Jerman pada tahun 1919 kelompok komunis, spartakis, hampir mengambil alih Berlin dan pada tahun yang sama republik Soviet sebenarnya berdiri di Munich untuk beberapa minggu. Di Italia, pada tahun 1920, komunis menduduki pabrik-pabrik di Turin dan Milan.
Bagi berjuta-juta orang Italia dan Jerman yang menginginkan hanya ketertiban dan stabilitas, tahun-tahun setelah Perang Dunia I merupakan tahun-tahun penghinaan nasional, kesengsaraan ekonomi, kekecewaan terhadap demokrasi dan ketakutan akan komunisme.
Naiknya Mussolini
Benitto Mussolini dilahirkan pada tanggal 29 Juli 1883. Ayahnya merupakan pandai besi yang miskin yang mewariskan kepada putranya 3 minat utama: politik revolusioner, minum dan wanita(www.weikemedia.com).
Pada dasarnya Mussolini adalah apa yang orang-orang Italia panggil Condottiere, yang berarti petualang, laki-laki di tindakan yang bergairah oleh ide-ide baru(www.google.com)
Pola hidup Mussolini berpura-pura mencegah revolusi oleh komunis sementara, dalam pernyataannya ia sedang mempercepat revolusi oleh fasis. Dengan masyarakat Italia di belakang sekarang ia memahami gerakan kekerasannya sendiri oleh kekuasaan. Taktik yang paling jelas dari semuanya adalah dengan sederhana menciptakan ketidaktertiban dan hingga mendiskreditkan pemerintahan demokratik bahkan lebih jelas.
Pada musim gugur 1922 Musslini merasa cukup kuat untuk mengintimidasi pusat pemerintahan sendiri. Ia memerintahkan fasisnya untuk berbasis di Roma. Ini berarti bahwa Mussolini di tawarkan pos Perdana Menteri dalam kondisi pemerintahan. Ketika Mussolini mendengar berita ini, ia pergi ke Roma dan menyambut kaki fasisnya yang lebih dengan berita bahwa mereka telah menang.
Kenaikan Hitler
Adolf Hitler yang dilahirkan di Braunau, Austria pada 20 April 1889 memang terkenal sebagai seorang orator, jago pidato (www.google.com). Betapa pun dianggap bertanggung jawab atas kematian puluhan juta jiwa semasa perang dunia II (ke banyakan bangsa Yahudi), Adolf Hitler akan tetap di catat sebagai penentu sejarah dunia, membawa Jerman keluar dari cengkraman sekutu dan bangkit menjadi penguasa Eropa.Ia menganggap bangsa Jerman (Ras Arya) merupakan bangsa yang mulia (agung) sedangkan bangsa lain dia anggap bangsa Barbar (bangsa primitif) khusus bangsa Yahudi .Tak heran jika banyak ahli sejarah politik, bahkan kejiwaan, lalu tertarik membedah profil Hitler secara mendalam. Nazi, partai berpengaruh yang ia pimpin, serta The Third Reich, visi masa depan Jerman yang ia perjuangkan, memang merupakan fenomena tersendiri. Begitu pula dengan angkatan perang Jerman yang merangsek begitu cepat ke negara-negara sekitar Jerman (Angkasa,2006,kedigdayaan Nazi Jerman (1933-1945) )
Berbagai penilaian di berikan oleh pengamat sejawat dan orang-orang yang pernah ada di dalam lingkarannya ada yang menyebutnya sebagai nasionalis sejati, orator yang sanggup mempengaruhi orang, penjahat perang yang sadis, psikopat,seorang diktator yang kejam,Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pemimpin agung serta pemimpin yang lembut dan lemah yang kebapakan.Sampai-sampai para pengikutnya rela mati misalnya pada waktu hancurnya pemerintahanya yang wilayah Jerman di kuasai oleh Uni Soviet para pendukung setia meminum racun (bunuh diri) .
Apapun itu keputusannya untuk bunuh diri di ujung keambrukan Jerman Nazi harus dianggap sebagai akhir dari sebuah kisah besar yang ironis sekaligus tragis. Ia berhasil membawa keluar rakyatnya yang tengah di dera depresi ekonomi hebat, mampu membangun angkatan perang hingga terdigdaya di Eropa, namun justru memilih mengakhiri hidupnya dengan menelan racun dan menembakkan pistol ke mulut. Bersama istrinya, Eva Braun, ia bunuh diri di bunker bawah kota Berlin pada 30 April 1945, ia menyatakan merasa terhormat mati bunuh diri ketimbang menyerah kepada tentara Rusia atau dihadapkan ke Pengadilan Perang. Yang begitu luar biasa, ambisi menguasai Eropa tak pernah padam hingga ia memutuskan bunuh diri.Tapi jasad Hitler gak ada yang menemukan.Ini yang menjadi persoalan,apakah Hitler mati bunuh diri ?atau memang di bunuh.
Pengaruh Fasisme Terhadap PD II
Eropa antara tahun 1933 sampai 1945, masa itu praktis tak ada kejadian fenomenal selain kemunculan fasisme dan geliat kehebatan NAZI. Dibawah kepemimpinan Adolf Hitler yang hanya mantan kopral, ajaran ini nyaris menguasai kontinen Eropa lewat gebrakan Reich ketiga. Sekutu bahkan harus berhitung sepuluh kali menghadapinya, mengingat angkatan perang yang dikendalikan begitu kuat dan mampu menggilas Austria, Polandai, Cekonslovakia dan Uni Soviet ( Rusia) dengan cepat.
Fasisme bersama Hitler dan Mussloini, Jerman dan Italia memang seperti dilahirkan kembali. Mereka telah dikalahkan dalam Perang Dunia I, namun “penghinaan” yang tercantum dalam perjanjian versailles 1919 telah membangkitkan semangat untuk kembali menguasai Eropa. Bersama Jepang dan Italia, Jerman bahkan nyaris memimpin dunia kalau bom atom yang mereka rancang lebih dulu selesai dari bom atom AS. Daya tariknya terpancar dari kehebatan organisasi kesatuan para militernya, angkatan perang, serta kecemerlangan ilmuannya sebagai salah satu bagian sejarah dunia yang cukup menonjol.
Perang yang digelar Jerman tak hanya meliputi kawasan Eropa saja tapi mencakup kawasan Afrika. Khusunya Afrika Utara. Pertempuran yang  berkecamuk di Afrika memang tidak dimulai oleh jerman melainkan oleh tentara Italia dibawah komando diktator Benitto Mussolini. Sebelum memulai perang di Afrika, yaitu menyerbu Mesir. Mussolini merupakan sahabat baik Hitler. Akan tetapi keduanya diam-diam saling unjuk gengsi. Ketika Hitler memutuskan menyerbu Rusia, Mussolini ternyata tak mau kalah. Ia juga memutuskan menyerbu Mesir.
Rencana Jepang untuk Asia
Jepang tentu saja mempunyai gambaran fasis. Kekuatan diktator dipegang oleh tentara atas nama kaisar. Di Jepang kekuasaan politik kepunyaan petugas tentara muda dari latar belakang sederhana (seperti Hitler dan Mussolini) yang mencela “aliansi korupsi” antara partai politik dan para kapitalis dan menyerukan revolusi “sosialis nasional”. Jadi, ketika memuliakan masa lalu nasional mereka yang dilambangkan dengan kerajaan, mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai elit modern yang menyebabkan revolusi sosial dan ekonomi.
Mereka percaya bahwa negara berharga untuk segala hal, individu boleh dikatakan tidak ada artinya, mereka percaya pada kebijakan luar negeri yang agresif untuk mencapai autarki dan “ruang hidup”. Ambisi mereka adalah menaklukkan Asia Timur dan membentuk “Asia Timur yang hebat” diperintah oleh Jepang. Di bawah Jepang ekstremis tentara terbatas kesuksesannya, sebenarnya kekuasaan mereka mulai menurun pada pertengahan 1930-an, tapi di Asia Timur, Jepang dari tahun 1931 maju menuju kerajaan yang sangat besar.
Rencana Nazi untuk Eropa
Perang di Eropa bukanlah perang benar-benar melawan fasisme, ini pada dasarnya melawan Nazisme dan khususnya perang melawan Hitler. Pada waktu itu, betapapun banyak fasis menyadari bahwa Nazi berjuang dalam perang bukan sebagai perang salib fasis tetapi untuk ambisi nasionalis dan rasialis Hitler.
Agresi diplomatik Hitler sampai permulaan Perang Dunia II pada 1939 didukung oleh fasis Eropa. Mereka menganggap itu nasionalisme gaya lama yang baik. Pencaplokan kekuatan Jerman akan Austria dan Sudentenland daerah Cechoslovakia pada 1938, penyerbuan militer Jerman akan Polandia pada tahun 1939 dilihat hanya sebagai balas dendam untuk perjanjian versailles dan sebagai usaha yang patut di puji untuk menyatukan kembali Reich Jerman.
Selama perang berkembang tetapi fasis Eropa menemukan bahwa tidak ada tempat yang nyata bagi gerakan mereka dalam orde baru Hitler untuknya. Itu adalah rencana realis Hitler untuk Eropa Timur yang menakutkan. Sebagian besar fasis, seperti yang ia jelaskan dalam Meinkampt, Hitler percaya bahwa ras superior Arya membasmi atau mengikuti sebagai budak yahudi dan slav yang lebih rendah supaya tegas dalam tempat kerajaan “Arya” diperintah semata-mata dalam kepentingan akan ras jagoan.

Senin, 11 Juni 2012

Rahasia Soekarno memikat wanita cantik

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk wanita. Menikah sembilan kali, dengan mudah wanita takluk padanya. Sebenarnya apa rahasia Soekarno? Mengapa wanita selalu terpikat padanya?

Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut.

"BK (Bung Karno) benar-benar dapat disebut jagoan. Terhadap setiap wanita yang sedang dihadapinya, dia selalu dapat mencurahkan perhatiannya kepada wanita itu. Sehingga wanita tersebut merasa bahwa dia satu-satunya wanita yang paling dicintai atau dihargai BK," tulis Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia.

Selain itu, Soekarno juga selalu bersikap gallant atau sopan dan hangat pada setiap wanita. Tak peduli wanita itu tua atau muda. Soekarno tak segan-segan mengambilkan minum sendiri untuk tamu wanitanya.

Soekarno juga selalu membantu memegang tangan wanita, jika wanita itu keluar mobil. Dia juga mengumbar pujian pada wanita. Hal ini yang selalu membuat para wanita tersanjung.

Pujian seperti "Alangkah serasinya kain kebaya yang anda pakai," atau "Nyonya kelihatan lebih muda dengan tatanan rambut baru itu," sering terdengar dari mulut Soekarno.

Maka dalam berbagai kunjungan di Eropa dan Amerika, Soekarno sering sekali mendapat pujian dari para wanita. Mulai dari politikus wanita, hingga artis sekelas Marilyn Monroe.

"Your President is real gentleman," ujar Bambang menirukan pujian para wanita itu.

Namun Bambang mencatat, akibat lagak seperti Arjuna itu pula Soekarno sering mendapat masalah dengan wanita. Tentunya tidak mudah mempunyai empat istri sekaligus dan semuanya minta menjadi nomor satu.

"Itulah BK sang arjuna yang dalam hidupnya terus terlibat persoalan wanita dan secara berani menerapkan politik 'vivere pericolozo' dalam soal asmara," kenang Bambang Widjanarko.

Jumat, 23 Maret 2012

G30S/PKI dalam Tiga Versi Kisah Sejarah




G30S/PKI dalam Tiga Versi Kisah Sejarah
Category: fakta

Januari 1965 mendung menyelimuti Jakarta. Rakyat letih dan cemas. Isu kudeta mere-bak di tengah inflasi meroket. Bahan-bahan kebutuhan pokok lenyap di pasaran. Setiap hari rakyat harus sabar berdiri dalam antrean panjang untuk menukarkan kupon pemerintah deng-an minyak goring, gula, beras, tekstil, dan kebutuhan lainnya. Rupiah nyaris tidak ada nilai-nya .

Begitulah setidaknya gambaran ibukota di awal-awal tahun 1965. Keadaan ekonomi negara dan rakyat semakin buruk tiap tahunnya, setidaknya sampai tahun 1968. Tahun yang membuat seluruh bangsa terperangah, sampai pada perubahan sistem politik dan rezim yang berkuasa. Mendung yang menandakan bahwa tahun itu adalah tahun yang “terkutuk”, terku-tuk karena tahun itulah terjadinya apa yang kita kenal dengan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Peristiwa pemberontakan G30S/PKI memang akan selalu menjadi ingatan bangsa dalam perjalanan sejarah. Peristiwa yang merenggut setidaknya tujuh orang perwira Angkatan Darat yang selanjutnya disebut Dewan Revolusi. Bahkan pada waktu-waktu berikutnya ada 500.000 – 1.000.000 jiwa manusia yang diambil untuk membayar peristiwa tersebut. Secara politik peristiwa tersebut terpaksa menyeret Bung Karno dari tampuk kekuasaanya.

Sampai sekarangpun sesungguhnya peristiwa G30S/PKI tersebut masih menimbulkan pertanyaan banyak pihak. Walaupun pemerintah pada tahun 1996 telah menerbitkan secara resmi mengenai peristiwa tersebut dalam satu buku. Tetapi hal itu tetap tidak cukup dipercaya oleh sebagian besar kalangan, karena masih terdapat banyak kejanggalan. Sehingga banyak buku-buku lain yang terbit yang menceritakan sisi lain dari peristiwa tragis tersebut.

Oleh karena itu dalam tulisan ini akan disampaikan beberapa versi yang menyangkut peristiwa G30S/PKI tersebut. Baik yang bersumber resmi dari pemerintah, maupun dari kete-rangan saksi dan pelaku yang dituduh terlibat dalam gerakan tersebut, juga dari tulisan repor-tase dari beberapa wartawan.

Versi Buku Putih

Pada tahun 1994 Sekretariat Negara (Setneg) menetbitkan satu buku yang mencerita-kan kronologi sampai pada penumpasan G30S/PKI secara sistematis. Buku itu menjadi satu-satunya sumber sejarah resmi yang diterbitkan negara menyangkut G30S, yang dikenal deng-an sebutan buku putih. Buku yang konseptor dan editor utamanya adalah presiden yang ber-kuasa saat itu Soeharto.

Awalnya menurut buku tersebut, dalam rangka mendiskreditkan TNI-AD (yang di- anggap sebagai musuh oleh PKI), PKI melancarkan isu Dewan Jenderal. Isu Dewan Jenderal diciptakan Biro Khusus PKI sebagai bahan perang urat syaraf untuk membentuk citra buruk terhadap pimpinan AD di mata masyarakat. Dikatakan bahwa “Dewan Jenderal” terdiri atas sejumlah Jenderal TNI-AD, seperti Jend. A.H. Nasution, Letjen Ahmad Yani, Mayjen S. Parman, dan lima jenderal lainnya yang dianggap anti PKI.

Pada sekitar awal September 1965 dilancarkan isu bahwa Dewan Jenderal akan mere-but kekuasaan dari Presiden Soekarno dengan memanfaatkan pengerahan pasukan dari daerah yang didatangkan ke Jakarta dalam rangka peringatan HUT ABRI pada tanggal 5 Oktober 1965. Isu ini semakin dikuatkan oleh Dokumen Gilchrist, Gilchrist sendiri merupakan Duta Besar Inggris untuk Indonesia yang bertugas 1963 – 1966.

Dokumen itu sendiri di dalamnya terdapat tulisan our local army friend, pada intinya memberikan kesan bahwa TNI-AD bekerjasama dengan Inggris, yang pada waktu itu dika- tegorikan sebagai salah satu kekuatan Nekolim. Oleh Dr.Soebandrio dokumen itu diberikan kepada Bung Karno (BK), sehingga pada 27 Mei 1965 BK mengumpulkan seluruh panglima angkatan di Istana Bogor utnuk tujuan klarifikasi. Klarifikasi terutama ditujukan untuk Letjen Yani sebagai Men/Pangad, dan Letjen Yani membantahnya.

Menurut buku putih tersebut sejak bulan Juli – September 1965, pelatihan pasukan su-karelawan dilakukan secara intensif dan massif dengan alasan untuk memperkuat pasukan Dwikora atas instruksi Men/Pangau Omar Dani. Penyelenggaraan pelatihan tersebut dipusat-kan di Lubang Buaya, Pondok Gede, dengan pimpinan pelatihan yaitu Mayor Udara Sujono sebagai komandan. Keterlibatan TNI-AU sangat besar dalam kegiatan ini, karena peralatan pelatihanpun diusahakan dari gudang TNI-AU.

Selanjutnya pada akhir Agustus sampai dengan akhir September 1965, Biro Khusus Central PKI secara maraton mengadakan pertemuan-pertemuan yang kesimpulannya dilapor-kan kepada Ketua CC PKI D.N.Aidit, yang saat itu juga menjabat Menteri Koordinator di da-lam Kabinet Dwikora. Pertemuan dan rapat-rapat tersebut membicarakan kesiapan gerakan pemberontakan, terutama kesiapan secara militer.

Secara struktural sesuai dengan keputusan Politbiro CC PKI bahwa pimpinan tertinggi gerakan di tingkat pusat berada di tangan D.N. Aidit, karena memang selain di Jakarta gerakan yang sama dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Sementara untuk komando di lapangan gerakan tersebut dikomandani Letkol. Untung, Untung sendiri merupakan Dan Yon Pengawal Presiden. Di lapangan gerakan tersebut terbagi dalam tiga pasukan yaitu Pasukan Gatotkaca, Pasukan Pasopati, dan Pasukan Bimasakti.

Pada tanggal 28 September 1965, Sjam selaku Kepala Biro Khusus Central PKI mela-por kepada D.N. Aidit bahwa penentuan Hari-H dan Jam-J tanggal 30 September pukul 04.00 dan disetujui. Sementara sasaran utama gerakan yaitu Jend. A.H. Nasution, Letjen. Ahmad Yani, Mayjen Haryono MT, Mayjen Soeprapto, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutojo S.

Perintah untuk gerakan ini jelas yaitu menangkap perwira-perwira di atas hidup atau mati. Di lapangan sesungguhnya gerakan ini telah gagal dengan kurangnya koordinasi yang baik, koordinasi antar pasukan ataupun koordinasi antara pasukan dan pimpinan. Walaupun secara umum sasaran gerakan tercapai kecuali Jend. Nasution, tetapi itu telah dibayar oleh nyawa putrid Nasution Ade Irma Suryani dan ajudannya Lettu. Pierre Tandean.

Diceriterakan betapa kejamnya aksi penculikan yang dilakukan oleh gerakan ini. Be-rapa jenderal telah ditembak mati duluan di kediamannya seperti yang dialami Letjen Yani, Mayjen Haryono, dan Brigjen Panjaitan. Sementara yang lainnya disiksa habisa-habisan da-hulu sebelum ditembak jatuh ke sumur, mereka ini yaitu Mayjen Soeprapto, Mayjen Parman, Brigjen Sutojo, dan Lettu Tandean. Seluruh korban penculikan di bawa ke Lubang Buaya, Pondok Gede dan diserahkan kepada pimpinan Pasukan Gatotkaca Lettu. Dul Arief.

Pada paginya tersiarlah kabar bahwa pimpinan-pimpinan teras AD diculik oleh suatu gerakan pemberontak. Gerakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berusaha meng-kudeta Presiden Soekarno, gerakan yang dicurigai dikendalikan oleh Partai Komunis Indone-sia (PKI). Dalam proses pencarian korban penculikan, pengendalian keamanan ibukota, sam-pai pada proses penumpasan inilah terlihat jelas betapa besar jasa Mayjen. Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad.

Mayjen Soeharto sebagai Pangkostrad mempunyai keyakinan bahwa gerakan tersebut merupakan gerakan PKI yang bertujuan menggulingkan dan merebut kekuasaan dari Peme-rintah Republik Indonesia yang sah. Yang selanjutnya oleh Soeharto gerakan ini disebut se-bagai Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Pangkostrad berhasil menguasai kembali alat-alat vital negara seperti Kantor RRI dan Telkom, yang sempat dikua-sai oleh G30S, pada tanggal 1 Oktober pukul 19.00.

Mayjen Soeharto mengangkat dirinya sebagai pimpinan sementara AD menggganti-kan Letjen Yani. Dengan kekuasaan AD yang ada di tangannya Soeharto melakukan perlawa-nan langsung terhadap G30S sampaai keesokan harinya. Sampai tanggal 2 Oktober pukul 14.00 pasukan pendukung G30S menghentikan perlawanannya dan melarikan diri ke daerah Pondok Gede. Dengan hancurnya kekuatan fisik G30S di ibukota, operasi selanjutnya dilan-jutkan untuk mencari para korban penculikan. Hingga akhirnya atas perintah Pangkostrad di-lakukan penggalian atas timbunan tanah di atas sumur tua, pada tanggal 3 Oktober pukl 17.00 yang dicurigai tempat pembuangan mayat korban penculikan, dan benar.

Versi Wartawan

Di bagian ini akan diceriterakan peristiwa Gerakan 30 September/Partai Komunis In-donesia (G30S/PKI) oleh seorang wartawan Kompas bernama Maruli Tobing (2001), yang dimuat dalam buku Dialog Dengan Sejarah. Dalam tulisannya bahwa G30S bukanlah gerakan yang berada di bawah kendali sebagai partai seper-ti yang dikatakan Soeharto. Walaupun memang ada orang-orang PKI yang trebukti terlibat di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Tobing G30S merupakan desainan Amerikan Serikat melalui lembaga CIA- nya, dan PKI dijadikan kambing hitamnya. Ditambah dengan konflik intern di dalam tubuh AD antara pihak yang anti-Soekarno seperti Jend. Nasution dan Mayjen Soeharto, dengan yang pro-Soekarno seperti Letjen Yani. Walaupun memang ketiga-tiganya membenci kehadi-ran PKI di kancah politik, tetapi untuk tingkat loyalitasnya terhadap BK tidak sama.

Sebelum tahun 1965 sebenarnya CIA telah seringkali mencoba melakukan kudeta ter-hadap BK dengan berbagai cara. Seperti memberikan bantuan dana satu juta dollar AS untuk partai yang anti-PKI dan anti-Soekarno, yang ditransfer melalui Hong Kong untuk membia-yai kampanye tahun 1995. Selain itu Peristiwa Cikini juga merupakan salah satu upaya men-jatuhkan BK dengan cara pembunuhan, yang didalangi CIA. Namun tetap tidak berhasil.

Dalam kasus G30S, Tobing menilai bahwa ada main mata antara TNI-AD dan CIA, dengan beberapa bukti membenarkan itu. Satu di antara bukti itu yaitu adanya satu telegram dari Kedubes AS di Jakarta yang masuk ke Deplu AS di Washington tanggal 21 Januari 1965. Isinya informasi pertemuan pejabat teras AD pada hari itu, dalam pertemuan itu salah satu perwira tinggi AD yang hadir bahwa adanya rencana pengambilalihan kekuasaan jika Bung Karno berhalangan.

Kapan rencana ini akan dijalankan, bergantung pada keadaan konflik yang sedang di-bangun beberapa pecan ke depan. Dalam 30 atau 60 hari kemudian AD akan menyapu PKI. Arsip telegram yang tersimpan di Lyndon B. Johnson Library dengan nomor control 16687 itu menyebut, beberapa perwira tinggi lain yang hadir malah menghendaki agar rencana itu dijalankan tanpa menunggu Soekarno berhalangan,

Dalam tulisannya Tobing lebih menekankan bahwa sesungguhnya persamaan persepsi antara pimpinan teras AD mengenai PKI, akhirnya berbenturan pada loyalitas tergadap Bung Karno. Yang oleh sebagian jenderal BK terlalu lunak dan selalu melindungi PKI yang dapat merusaka persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga jenderal-jenderal yang anti-Soekarno mendekati AS yang telah diketahui telah lama ingin menggulingkan Soekarno dan PKI.

Versi Saksi dan Pelaku

Versi ini merupakan hasil wawancara dan intisari dari otobiografi para saksi dan pe-laku G30S, yang terangkum dalam buku yang berjudul Saksi Dan Pelaku Gestapu (2005). Pada bagian ini para saksi dan pelaku G30S yang pernah diadili di Mahmilub dan menekan di penjara selama puluhan tahun, lebih menekankan pada pengaruh Soeharto.

Bahwa hampir se-luruh saksi dan pelaku menyatakan bahwa Pangkostrad saat itu sesungguhnya sudah menge-tahui akan adanya gerakan pemberontkan. Bahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto disebut se-bagai konseptor gerakan tersebut. Beberapa saksi dan pelaku di dalam buku tersebut yang dimuat petikan wawancara dan kutipan otobiografinya yaitu, May-jen Soeharto, Seka Bungkus, Letkol Heru Atmodjo, Kolonel Latief, Laksdya Omar Dani, Mayjen Pranoto Reksosamodra, dan Jend. A.H. Nasution.

Seperti yang diceriterakan Kolonel Latief yang saat itu menjabat sebagai Komandan Brigif I Jayasakti, dan di Buku Putih disebutkan bahwa ia merupakan wakil dari pimpinan ge-rakan Letkol. Untung. Pada persidangan di Mahmilub ia divonis penjara seumur hidup, se- telah pledoinya ditolak. Setelah runtuhnya Orde Baru, Kol. Latief akhirnya dibebaskan bu- lan April 1999 dari Rutan Salemba selama 33 tahun 5 bulan dipenjara.

Bahwa dua malam berturut-turut sebelum meletusnya G30S, ia telah melapor ke Pangkostrad Mayjen Soeharto, tentang adanya rencana menghadapkan tujuh jen-deral kepada presiden.

Pada 28 September malam ia mendatangi Pak Harto di rumahnya, untuk menanyakan isu Dewan Jenderal. Dan ternyata Pak Harto telah mengetahuinya melalui anak buahnya dari Yogya, Bagio. Menurut informasi yang didapatnya bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kup terhadap BK. Sementara tanggal 29 malamnya melapor ke Soeharto di RSPAD Gatot Subroto, bahwa besok aka nada tujuh orang jenderal AD yang akan dihadapkan ke presiden. Dan reaksinya Pak Harto hanya manggut-manggut, dan selesai.

Ini setidaknya menunjukkan bahwa sebenarnya Mayjen Soeharto sudah mengetahui bahwa aka nada rencana kudeta terhadap Bung Karno oleh Dewan Jenderal. Dan rencana me-nghadapkan tujuh orang jenderal AD ke BK. Tetapi Mayjen Soeharto sebagai Pangkostrad tidak mengambil tindakan apapun.

Mana Yang Benar?

Dari ketiga versi di atas penulis merasa versi wartawan lah yang paling dapat dipercaya. Karena memang tidak mungkin semudah yang dibayangkan untuk menjatuhkan Presiden Soekarno dari tampuk kekuasaan, sementara masih banyak rakyat yang mencintainya. Apalagi di dalam tubuh AD sendiri terdapat dua faksi yang anti dan pro terhadap Soekarno, sehingga cukup sulit jika AD melaksanakan sendirian kudeta tersebut.

Akhirnya faksi yang anti-Soekarno mau tidak mau harus mencari bantuan asing yang dirasa berkepentingan yang sama dengan AD, dan itu tidak lain Amerika Serikat. Dan kebe- tulan karena ada gerakan pemberontak dari orang-orang yang mencintai Soekarno dengan sepenuh hati yang berusaha “membuang” jenderal-jenderal AD yang tidak loyal. Ditambah mereka berasal dan dibawah kendali D.N. Aidit yang notabene merupakan Ketua Politbiro CC PKI, maka jadilah PKI sebagai kambing hitamnya.

GW : Pusat Pemberontakan PKI adalah di BANDARA HALIM PERDANA KUSUMA yang merupakan basis kuat Angkatan Udara RI Dari 7 jendral Dewan Revolusi terdapat yang loyal pada SOEKARNO DAN PKI hanya 5 dewan Revolusi dan 2 Jendralnya Nasution dan Soeharto adalah Jendral nti PKI dan Soekarno dengan Mendirikan Partai politik Bernama (GOLKAR) dari hasil pemilu PKI di Dukung Soekarno,TNI AU dan TNI AL 1.500.000 orang di tembak Oleh TNI AD sebagai balas dendam atas G30S tanpa TNI AD fikirkan yang Mereka Bantai Adalah Anak Bangsa dan Prajurit TNI AU

apalagi di Dukung wawancara Ini

Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,” kata Untung kepada Soebandrio.

Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.

Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu “misteri” tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto.

Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan “Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.

Potongannya seperti preman

Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.

“Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,” ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya. Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal.

“Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,” kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. “Saya yang mengantarkan Untung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari.”

Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. “Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),” kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Clash yang terjadi pada 1948 antara Republik dan Belanda membuat pengejaran terhadap batalion-batalion kiri terhenti. Banyak anggota batalion kiri bisa bebas. Suhardi tahu Untung kemudian balik ke Solo. “Untung kemudian masuk Korem Surakarta,” katanya. Saat itu, menurut Suhardi, Komandan Korem Surakarta adalah Soeharto. Soeharto sebelumnya adalah Komandan Resimen Infanteri 14 di Semarang. “Mungkin perkenalan awal Untung dan Soeharto di situ,” kata Suhardi.

Keterangan Suhardi menguatkan banyak tinjauan para analisis. Seperti kita ketahui, Soeharto kemudian naik menggantikan Gatot Subroto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Untung lalu pindah ke Divisi Diponegoro, Semarang. Banyak pengamat melihat, kedekatan Soeharto dengan Untung bermula di Divisi Diponegoro ini. Keterangan Suhardi menambahkan kemungkinan perkenalan mereka sejak di Solo.

Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.

Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya. Bersama Benny Moerdani, ia mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno.

“Kedua prestasi inilah yang menyebabkan Untung menjadi anak kesayangan Yani dan Soeharto,” kata Kolonel Purnawirawan Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, atasan Untung di Tjakrabirawa, kepada Tempo.

Untung masuk menjadi anggota Tjakrabirawa pada pertengahan 1964. Dua kompi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadi anggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudah letnan kolonel saat itu.

Anggota Tjakrabirawa dipilih melalui seleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itu dijabat Soeharto, yang merekomendasikan batalion mana saja yang diambil menjadi Tjakrabirawa.

Sebab, menurut Suhardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Tengah mengetahui banyak anggota Raiders saat itu yang eks gerakan Madiun 1948. “Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun.”

Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden. Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung.


Suhardi masuk Tjakrabirawa sebagai anggota Detasemen Pengawal Khusus. Pangkatnya lebih rendah dibanding Untung. Ia letnan dua. Pernah sekali waktu mereka bertemu, ia harus menghormat kepada Untung. Suhardi ingat Untung menatapnya. Untung lalu mengucap, “Gus, kamu ada di sini….”

“Mengapa perhatian Soeharto terhadap Untung begitu besar?” Menurut Maulwi, tidak ada satu pun anggota Tjakra yang datang ke Kebumen. “Kami, dari Tjakra, tidak ada yang hadir,” kata Maulwi.

Dalam bukunya, Soebandrio melihat kedatangan seorang komandan dalam pesta pernikahan mantan anak buahnya adalah wajar. Namun, kehadiran Pangkostrad di desa terpencil yang saat itu transportasinya sulit adalah pertanyaan besar. “Jika tak benar-benar sangat penting, tidak mungkin Soeharto bersama istrinya menghadiri pernikahan Untung,” tulis Soebandrio. Hal itu diiyakan oleh Suhardi. “Pasti ada hubungan intim antara Soeharto dan Untung,” katanya.

Soeharto: Sikat saja, jangan ragu

Dari mana Letkol Untung percaya adanya Dewan Jenderal? Dalam bukunya, Soebandrio menyebut, di penjara, Untung pernah bercerita kepadanya bahwa ia pada 15 September 1965 mendatangi Soeharto untuk melaporkan adanya Dewan Jenderal yang bakal melakukan kup. Untung menyampaikan rencananya menangkap mereka.

Bila kita baca transkrip sidang pengadilan Untung di Mahkamah Militer Luar Biasa pada awal 1966, Untung menjelaskan bahwa ia percaya adanya Dewan Jenderal karena mendengar kabar beredarnya rekaman rapat Dewan Jenderal di gedung Akademi Hukum Militer Jakarta, yang membicarakan susunan kabinet versi Dewan Jenderal.

Maulwi melihat adalah hal aneh bila Untung begitu percaya adanya informasi kudeta terhadap presiden ini. Sebab, selama menjadi anggota pasukan Tjakrabirawa, Untung jarang masuk ring I atau ring II pengamanan presiden. Dalam catatan Maulwi, hanya dua kali Untung bertemu dengan Soekarno. Pertama kali saat melapor sebagai Komandan Kawal Kehormatan dan kedua saat Idul Fitri 1964. “Jadi, ya, sangat aneh kalau dia justru yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal,” kata Maulwi.

Menurut Soebandrio, Soeharto memberikan dukungan kepada Untung untuk menangkap Dewan Jenderal dengan mengirim bantuan pasukan. Soeharto memberi perintah per telegram Nomor T.220/9 pada 15 September 1965 dan mengulanginya dengan radiogram Nomor T.239/9 pada 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Banteng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah. Mereka diperintahkan datang ke Jakarta untuk defile Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober.

Pasukan itu bertahap tiba di Jakarta sejak 26 September 1965. Yang aneh, pasukan itu membawa peralatan siap tempur. “Memang mencurigakan, seluruh pasukan itu membawa peluru tajam,” kata Suhardi. Padahal, menurut Suhardi, ada aturan tegas di semua angkatan bila defile tidak menggunakan peluru tajam. “Itu ada petunjuk teknisnya,” ujarnya.

Pasukan dengan perlengkapan siaga I itu kemudian bergabung dengan Pasukan Kawal Kehormatan Tjakrabirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat Monumen Nasional.


Soeharto melewati pasukan yang hendak membunuh 7 jenderal

Dinihari, 1 Oktober 1965, seperti kita ketahui, pasukan Untung bergerak menculik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malam itu Soeharto , menunggui anaknya, Tommy, yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di rumah sakit itu Kolonel Latief, seperti pernah dikatakannya sendiri dalam sebuah wawancara berusaha menemui Soeharto.

Adapun Untung, menurut Maulwi, hingga tengah malam pada 30 September 1965 masih memimpin pengamanan acara Presiden Soekarno di Senayan. Maulwi masih bisa mengingat pertemuan mereka terakhir terjadi pada pukul 20.00. Waktu itu Maulwi menegur Untung karena ada satu pintu yang luput dari penjagaan pasukan Tjakra. Seusai acara, Maulwi mengaku tidak mengetahui aktivitas Untung selanjutnya.
Ketegangan hari-hari itu bisa dirasakan dari pengalaman Suhardi sendiri. Pada 29 September, Suhardi menjadi perwira piket di pintu gerbang Istana. Tiba-tiba ada anggota Tjakra anak buah Dul Arief, peleton di bawah Untung, yang bernama Djahurup hendak masuk Istana. Menurut Suhardi, tindakan Djahurup itu tidak diperbolehkan karena tugasnya adalah di ring luar sehingga tidak boleh masuk. “Saya tegur dia.”
Pada 1 Oktober pukul 07.00, Suhardi sudah tiba di depan Istana. “Saya heran, dari sekitar daerah Bank Indonesia, saat itu banyak tentara.” Ia langsung mengendarai jip menuju markas Batalion 1 Tjakrabirawa di Tanah Abang.
“Saya ingat yang jaga saat itu adalah Kopral Teguh dari Banteng Raiders,” kata Suhardi. Begitu masuk markas, ia melihat saat itu di Tanah Abang semua anggota kompi Banteng Raiders tidak ada.
Begitu tahu hari itu ada kudeta dan Untung menyiarkan susunan Dewan Revolusi, Suhardi langsung ingat wajah sahabat masa kecilnya dan sahabat yang sudah dianggap anak oleh ibunya sendiri tersebut. Teman yang bahkan saat sudah menjabat komandan Tjakrabirawa bila ke Solo selalu pulang menjumpai ibunya. “Saya tak heran kalau Untung terlibat karena saya tahu sejak tahun 1948 Untung dekat dengan PKI,” katanya.

Kepada Oditur Militer pada 1966, Untung mengaku hanya memerintahkan menangkap para jenderal guna dihadapkan pada Presiden Soekarno. “Semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan kepada mereka,” jawab Untung.
Heru Atmodjo, Mantan Wakil Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, yang namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi, mengakui Sjam Kamaruzzaman- lah yang paling berperan dalam gerakan tersebut. Keyakinan itu muncul ketika pada Jumat, 1 Oktober 1965, Heru secara tidak sengaja bertemu dengan para pimpinan Gerakan 30 September: Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Sujono, Sjam Kamaruzzaman, dan Pono. Heru melihat justru Pono dan Sjam-lah yang paling banyak bicara dalam pertemuan itu, sementara Untung lebih banyak diam.
“Saya tidak melihat peran Untung dalam memimpin rangkaian gerakan atau operasi ini (G-30-S),” kata Heru saat ditemui Tempo.
Soeharto: Letkol Untung murid pimpinan PKI
Soeharto, kepada Retnowati Abdulgani Knapp, penulis biografi Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President, pernah mengatakan memang kenal dekat dengan Kolonel Latif maupun Untung. Tapi ia membantah isu bahwa persahabatannya dengan mereka ada kaitannya dengan rencana kudeta.
“Itu tak masuk akal,” kata Soeharto. ”Saya mengenal Untung sejak 1945 dan dia merupakan murid pimpinan PKI, Alimin. Saya yakin PKI berada di belakang gerakan Letkol Untung,” katanya kepada Retnowati.
Demikianlah Untung. Kudeta itu bisa dilumpuhkan. Tapi perwira penerima Bintang Sakti itu sampai menjelang ditembak pun masih percaya bakal diselamatkan.


Pesan soekarno yang terakhir
Soekarno: "indonesia bukanlah negara anti komunist, saya tidak mau punya anak yang tidak KIRI" http://www.youtube.com/watch?v=5T9Hb3VA0hg&feature=related

pidato Soekarno Terakhir
rezimku mungkin Sudah Selesai Akan Tetapi Revolusioner Selanjutnya Bukan Kau Soeharto Bukan Kau Nasuton dan Bukan Kau Lah soehato
Sumber Arsip NAsional RI

Referensi
-Lesmana, Surya, 2005, Saksi Dan Pelaku Gestapu,
-Media Pressindo: Yogyakarta. Oetama, Jakob, et al, 2001,
-Dialog Dengan Sejarah Soekarno Seratus Tahun,
-Kompas Media Nusantara: Jakarta. 1994,
-Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia,
-Sekretariat Negara RI: Jakarta. Ekamara Ananami Putra
-Akun Tanjung Prayoga: Jakarta Timur

Selasa, 20 Maret 2012

Truth about Pol Pot and Maoism





* Pol Pot did not execute 2 or 3 million people.
* The U.S. Indochina war did kill 10 million Asians and left millions more homeless and starving.
One of the worse slanders by anti-communists against Maoism is that Pol Pot was a Maoist and a communist. This simply wasn’t true to any degree. Since the vast majority don’t know anything about Pol Pot, Maoism or communism, they simply believe any bad thing they’re told, no matter how ridiculous or hypocritical. The fact is Pol Pot was not a Maoist. Its just more propaganda by the ruling class to equate Mao and communism with genocide while ignoring its own history of actual genocide surpassing anything in history.
Pol Pot was the leader of the Khmer Rouge which came to power by defeating a US-backed right-wing regime. They called themselves communist, although its difficult to find any policies that actually could be considered communist. The country has also suffered from US imperialism for a long time. Which means its difficult (and necessary) to separate the truth about what happened in Cambodia from anti-communist and pro-imperialist propaganda.
In 1975 about 10% of the population in Cambodia, about 600,000 had already died as a result of US actions during the Vietnam War (1). The US invaded Cambodia several times looking for Vietcong bases of operation. This “searching” in practise was a steady bombing campaign of the Cambodian countryside.
It was US President Richard Nixon who ordered the bombings and then lied about it, turning the tide of public opinion of the war around against it. Hypocritically, most of the people who complained about Pol Pot supported the bombings of Cambodia.
The US bombing not only killed 2 or 3 million people, but it also created abut 2 million refugees who fled the country side and went into the cities. As the US was destroying the Cambodian countryside the country became dependent on U.S. food aid. Even this was horribly mismanaged because of the inefficiency of the right-wing Lon Nol regime.
What this means that when the Khmer Rouge came into power during the worst possible condition: Mass starvation. Cambodia was poorest country in the world and one-third of the population were refugees.
In the mass starvation that was taking place, it was absolutely necessary to get food production going again as fast as possible. If it didn’t then possibly the entire country could have gone through an even greater famine killing millions. In this emergency situation Pol Pot order people Phnom Penh and move to the countryside in order to begin farming again. The country’s economy was absolutely crushed and unable to function (2).
The anti-communists whine that this was fascism, forcing people to farm was terrible. They don’t have a problem with a right-wing anti-communist pro-capitalist regime killing millions in the country causing that starvation. Pol Pot did the only thing he could have done to stop the starvation from getting worse. Anti-communists don’t mind killing millions, but get angry if someone who might appear to be communist tries to clean up the mess.
On a side note, this in ability of anti-communists to fail to understand that people need to eat is a recurring theme. After the shortage of grain due to weather conditions, pro-market farmers in the Soviet Union had deliberately withheld grain in order to inflate the price. As people were going hungry these farmers sought to make even more money by making more people hungry. Stalin responded by collectivizing these farms to get food production going again. Anti-communists think Stalin is bad guy for trying to minimize this suffering. Farms were collectivized because people need to eat.
After the atrocities of Pol Pot, actually communist Vietnam invaded to bring this nightmare to an end. The US was unable to do so, (even if if they did care,) because all their resources were drained from trying to prevent the people of Vietnam from deciding what type of society they wanted.
To deal with the body count of those killed one would assume from the anti-communist view of reality that pol Pot went around killing 2 or 3 million people for no reason. In actuality 75,000 to 150,000 were killed, most of whom were urban dwellers. Many upper class or intellectuals between 1975 and 1979.
This massive 2 or 3 million figure is a direct result of all deaths from 1975 to 1979, based on estimates of the population. In actuality a Finnish inquiry determined that 1 million or fewer people actually died in the Pol Pot regime. Several thousand of those were a the result of the clashes with the Vietnamese military.
Another famine started after the invasion by Vietnam, however international aid was already too late. By then 2 million or 30% of the population had died as a result of US bombings, Pol Pot regime and the Vietnamese invasion combined.
Here are some important facts:
* Pol Pot was not a Maoist he was an opportunist.
* Pol Pot never called himself a Maoist while Mao was alive.
* Mao never called Pol Pot a Maoist.
* Pol Pot never supported the Gang of Four, Mao’s successors, and in fact called them “counterrevolutionary.”
There was of course a relationship between China and the Khmer Rouge. China supported many Asian countries struggle for self-determination and reconstruction, never at any time calling the communist parties in those countries Maoist. This includes Vietnam. It is to be noted that China gave aid to them and others who did not even claim to be communist, including some countries in Africa.
The fact is, Pol Pot didn’t call himself a Maoist until after Mao had died. Pol Pot had always declared that he didn’t follow anyone until Hua Guofeng took power in China away from the Gang of Four. It was only then that he started calling himself a Maoist. It’s important to note that it was Hua Guofeng who had the Gang of Four arrested along with Mao’s wife. The Gang of Four were supposed to be Mao’s successors.
Its also important to note that it was Hua Guofeng who brought Deng Xiaoping to power.
Really Pol Pot was calling himself a Maoist while he supported the arrest of the Gang of Four and Mao’s wife. At no point could he ever have been considered a Maoist.
Pol pot was denouncing Deng Xiaoping as counterrevolutionary 1977 as the Gang of Four were set to become the new leaders. However once Deng Xiaoping came into power he started praising him. After that there was no mention of Maoism ever again. Pol Pot was an opportunist who supported whoever was in power, especially around the end when he needed military aid and sanctuary from China when dealing with Vietnam.
To say that Pol Pot was a Maoist is an absolute lie. Pol Pot did choose a few Maoist policies, but also chose many that were not. Pol Pot also had a few theories that resembled Mao’s, but any Third World revolutionary sounded exactly the same Pol Pot.
This whole situation with Cambodia and Pol Pot is massively distorted and outright lied about by anti-communists, the same people who take Nazi crimes and try to blame Stalin for them. The same people who don’t understand that people need to eat.

Senin, 19 Maret 2012

THE TRUTH ABOUT LIBYA




 The Truth about LIBYA

-Libya is being attacked and invaded for its Oil, water, gold and position - in the Middle-East bordering Africa.

-Gadaffi is not a monster - that is a lie to justify the invasion
He was given a Humanitarion award by the UN in November 2010
but they cancelled the ceremony due in March 2011 - when NATO started bombing Libya

-The US/NATO attack is the result of years of planning and work by the CIA, MI6 and the NATO governments.
http://www.informationclearinghouse.info/article28952.htm#IDCommentundefined

-The Western powers are destroying Gadaffi and Libya, because they were leading a pan-African economic development, independent of the IMF and World Bank and the US doesn't allow that :(
http://rt.com/news/libya-subordinate-role-africa-597/

-Libya was a rich, Independent nation - with free education including University, free healthcare and government assistance in housing, jobs, food subsidies and income support. All Libyans received payments from oil revenues.
https://rt.com/news/interview-libya-nato-intrusion-127/

-Gadaffi built the 'Great Man-made River' over decades, a massive pipeline to provide water to the cities and to the desert -which was developing agriculture in the desert, to make the region a huge food producer. Libya built this without borrowing or going into debt,
http://www.youtube.com/watch?v=5mIglQMCkyg&feature=related

Stand up for Libya and say NO ! to Endless War.

foto-foto uni soviet part 1